Calon Wali Kota Medan Bobby Nasution Mencari Wakil Bebas Korupsi
Calon Wali Kota Medan Bobby Nasution Mencari Wakil Bebas Korupsi

BobbyNasution.id, Medan –  Sebagai Calon Walikota Medan 2020 yang sarat prestasi, sosok Bobby Nasution membuat banyak orang kagum. Para pendukung juga sudah siap memilihnya sebagai pemimpin di Kota Medan.

Nah, jika ia mencalonkan diri sebagai Wali Kota Medan, tentu akan ada wakilnya. Sosok wakil Wali Kota Medan juga harus memiliki peranan penting dan juga harus memiliki rekam jejak yang tak kalah bagus dengan Bobby.  Dikabarkan, banyak sekali yang ingin mencalonkan diri, sebagai pendamping Bobby menjadi wakil wali kota.

Tentunya, pendamping Wali Kota Medan juga memiliki peranan penting dalam pemerintahan. Karena itulah, cawali Kota Medan, Bobby Nasution harus benar-benar selektif dalam memilih wakil. Banyak pendapat tercuat di berbagai media, baik media massa maupun media elektronik.

Baca Juga: Calon Wali Kota Bobby Nasution Ajak Milenial Urban Miliki Pola Pikir Kolaborasi

Salah satu pendapat muncul dari Tengku Ma’moon Al Rasjid. Ketua Harian Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid ini berujar tentang sosok ideal yang dapat menjadi pendamping Bobby Nasution sebagai pemimpin Kota Medan selama lima tahun berikutnya. Menurutnya, ia harus mencari seorang pendamping dengan figur yang memiliki kompetensi bagus. Kompetensi ini, kata Al Rasjid, adalah kompetensi dalam hal politik serta birokrasi.

Bobby, menurut Al Rasjid, adalah seseorang yang sangat pas memimpin Kota Medan. Apalagi dengan usianya yang masih muda. Ia mengatakan bahwa pemimpin di usia muda sangat bagus, dan juga harus didampingi oleh seseorang yang juga memiliki pengalaman politik yang bagus pula.

Al Rasjid melanjutkan bahwa sosok berpengalaman bukan berarti ia harus seseorang yang lebih tua dengan pengalaman politik lebih lama. Namun, pengalaman sangat perlu selain kemauan keras dan juga energi. Tokoh muda sangat pas dalam mendampingi Bobby. Bobby adalah seseorang dengan energi yang besar dan juga kinerja cepat. Jika pendampingnya tidak bisa mengimbangi, maka akan sulit untuk menjadi pemimpin.

“Selain berpengalaman dan memiliki energi besar, calon pendamping Bobby juga harus menyejukkan dan memiliki citra positif,” paparnya, ketika ditemui oleh wartawan pada 1 Juli 2020 lalu.  Lebih lanjut, Ma’moon Al Rasjid mengatakan bahwa dunia politik merupakan dunia dinamis. Ilmu dan juga pengalaman politik lama tidak semuanya dapat diaplikasikan dengan dunia politik masa kini. Kreativitas Wali Kota dan wakilnya dituntut disini. “Yang muda ini (Bobby Nasution), yang masih ringan (beban) pikirannya, pasti lebih inovatif,” paparnya.

Menurut Ma’moon Al Rasjid, pendamping sebagai wakil wali kota yang sarat berpengalaman namun tetap enerjik ini dapat memberikan masukan dalam hal politik terapan kepada Bobby. “Sehingga akhirnya bisa dikolaborasikan. Walikota dan wakil walikotanya sama-sama memajukan Kota Medan ini,” paparnya.

Ia melanjutkan bahwa kolaborasi tersebut dapat menjadi perpaduan pas, dari sosok modern dan juga tradisional. “Warnanya juga lebih baik. Potensinya tinggi kalau Bobby melakukan kolaborasi seperti ini. Saya dukung sekali, saya mau lihat orang muda maju. Apalagi Bobby punya akses bagus sebagai menantu Presiden,” lanjutnya.

Baca Juga: Calon Wali Kota Bobby Nasution Berharap Kota Medan Kembali Jadi Kota Para Saudagar

Ia juga memberikan pendapat tersendiri tentang kasus korupsi yang menjerat tiga mantan Wali Kota Medan sebelumnya. “Hari ini tidak, besok bisa kena. Unpredictable korupsi itu. Tapi umumnya anak-anak muda tidak berpikir korupsi. Anak muda itu tidak butuh uang. Anak muda butuh achievement (pencapaian, red). Anak muda lebih butuh tepuk tangan daripada uang,” katanya, yang menganggap korupsi sebagai wabah.

Hal sedikit berbeda disampaikan oleh Faisal Riza. Pengamat politik UINSU ini justru menyarankan supaya Bobby Nasution memilih figur yang representatif namun punya loyalitas tinggi. “Tidak cenderung melebihi wewenang,” ucapnya. Ia berpendapat bahwa sosok yang kompeten berbirokrasi namun bersih sangat penting sebagai wakil wali kota. “Dan terakhir, faktor elektabilitas mungkin bisa juga dipertimbangkan,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here